Friday, July 25, 2014

No Title


           Aku gadis berumur 15 tahun. Kata orang -orang sekitar, aku gadis remaja yang cantik dan mempesona. Aku tidak mengerti akan apa yang di katakan semua orang. karena jujur aku hanya bisa melihat warna abu-abu di dalam hidup ini. Ya aku bahkan tak pernah tau wajah ibu dan ayahku. aku juga tak pernah tau wajahku sendiri seperti apa. Cantik? Mempesona? apa itu hanya pujian agar aku tetap semangat hidup? 

                "papa,.. papa,.." teriakku memanggil ayah ku yang entah pada saat itu sedang apakah beliau. ayah sangat sayang pada ku. Kata ayah, ia akan membelikan kornea untuk aku. Tapi kata ibu, tabungan belum mencukupi untuk biaya operasi dan lain lain. Aku kadang berfikir, biarlah terus begini, toh yang penting mereka tidak susah. "ada apa sayang? mau makan?" tanya ayahku di ikuti belaian kasih sayangnya. "paa,.. tadi waktu kakak di sekolahan, kakak di kasih penghargaan sama ibu guru pa.." tuturku. "Oh ya? penghargaan apa itu nak?" akhirnya akupun menceritakannya. Guru ku bilang aku adalah murid paling sabar dan tidak pernah sekalipun marah-marah seperti teman-temanku yag bernasib sama denganku. "Hebat dong sayang,. kamu bisa seperti itu." "paa kakak boleh tanya satu hal tidak?" "boleh sayang, apapun akan papa jawab." "pa,. apakah dunia ini bergitu indah?" yap itu lah pertanyaan yang keluar dari bibir manisku ini. "Sayang, dunia ini indah jika kau dapat menikmati nya dengan benar, dunia ini akan terasa buruk jika kamu tidak menikmati dengan baik. kamu tidak sabar untuk bisa melihat dunia sayang?" setelah ayah menjawab pertayaan tersebut, aku mendengar beliau terisak. "iya pa,." jawabku singkat. lalu ayah memelukku dengan erat. "papa akan berusaha sayang, berusaha untuk kamu, agar kamu dapat melihat papa serta mama, dan juga adek-adekmu sayang." "tidak usah di paksakan pa,.. aku akan menunggu." setelah itu, aku pergi ke kamar untuk beristirahat. 

                Aku tertidur di kasur, dan bermimpi bertemu dengan seorang lelaki tampan, lelaki itu datang pada ku dengan sebuah senyuman yang berada di bibirnya. Sungguh, aku bingung di buatnya. lalu lelaki itu pun berkata. "Suatu saat nanti, kau akan tau siapa aku." setelah berkata seperti itu, dia pergi meningggalkanku begitu saja. Dan aku terbangun dari tidurku. 

                Esok harinya, ayah membangunkanku lebih awal dari biasanya. "ada apa sih pa.?" "ayo sayang, kamu akan operasi hari ini." ujar ayah. aku terkaget. awalnya aku ada rasa senang karena akan melihat dunia. Tapi tiba-tiba aku cemas kedua orang tuaku akan sengsara setelah aku operasi. "pa,.. tidak usah deh pa,. ma,.. biaya nya kan besar, kakak ngga mau nanti setelah operasi kita ngga punya apa-apa lagi." tuturku. "Nak, mama sama papa kan sudah janji sama kamu, tenang lah nak,. kita tidak akan sengsara. percayalah, Tuhan selalu bersama kita." "iya kaak,.. kak, kalau kakak tidak operasi sekarang, kakak akan menyesal. kak,.. Sekarang, atau tidak sama sekali.?" ungkap adikku. "ehm,. baiklah ma, pa,." akhirnya aku dan kedua orang tuaku pergi ke rumah sakit untuk menjalani operasi. 

              Akhirnya, operasi berhasil di lakukan, aku menangis bahagia karena bisa melihat wajah orangtuaku. ternyata, mereka begitu indah. Aku segera menggapai cermin yang di sodorkan ayah. "paa,.. apakah ini wajah ku? apakah wajah indah ini milikku?" tanyaku. "iya sayang, itu kamu.." aku semakin menangis, aku bersyukur bisa melihat wajah ku sendiri. "sayang, bersyukurlah." "iya pa,. ma,.. terima kasih ,." 

            Aku, walaupun sudah operasi, aku tidak di perboleh kan pulang terlebih dahulu. Aku di rawat di RS selama beberapa hari. "suster,. bolehkah aku keluar kamar ini? aku jenuh sekali." "silahkan non,." akhirnya aku berjalan-jalan. menyapa suster,. menyapa dokter, bahkan menyapa para pasien.  Tiba-tiba,..... BRUUUKKK!!  "Aah maafkan saya,. saya tidak melihat anda.. maaf." aku menabrak seseorang. "tidak apa. justru aku yang harus minta maaf ke kamu." tutur orang itu dan ternyata,.... dia orang yang ada di mimpiku. 
dan satu lagi, dia mirip sekali denganku. lalu aku meninggalkan lelaki itu. Setelah merasa capek, aku memutuskan kembali ke kamar. Tapi saat akan masuk, terdengar suara orang berdebat. "Paa,.. Maa,.. udah saatnya aku bertemu dia,.. bukankah mama sama papa janji sama aku? kenapa malah di halang-halangi begini sih maa paa... dia juga saudaraku,.. kembaranku,. kenapa mama sama papa engga ngebolehin aku jenguk dia." "Nak,. mungkin dia akan syok dan marah, dia tidak pernah tau kamu, dan tiba-tiba dia melihatmu." terdengar suara ibu dari dalam. "Maa,.. ini semua juga salah mama,. kenapa dari dulu mama enggak pernah mengijinkan aku untuk tinggal bersama mama dan papa,. kenapa mama menitipkan ku pada Tante Dhila?" 'Apa? kembaran? Tante Dhila? Kaget? marah? ada apa ini sebenarnya?'  "Maa,.. kalau dia ngga tau aku sekarang, kapan lagi maa aku bisa melihatnya? Tante Dhila akan ke Paris ma,.. dan aku ikut maa,.. kalau ngga sekarang,.kapan lagi maa,..?" paksa anak itu. Jujur, aku ngga tau siapa dia. Karena penasaran, aku masuk. Dan, anak itu adalah lelaki yang ada di mimpiku dan yg tadi bertabrakan denganku. 

           "Ma? Pa? kenapa harus terus di tutup-tutupi sih? aku juga ingin kenal dia, aku pingin bersama saudara aku sendiri maa paa,.. kenapa mama sama papa memisah kita? kenapa mama sama papa ngga pernah kasih tau ke aku kalau selama ini, aku punya kembaran? Kenapa maa ? paa?" tak terasa, air mataku jatuh. Tiba-tiba,... "Raisa? aku rindu kamu dek,.."ungakap lelaki itu sambil memelukku. 'Raisa? namaku kaan,..pelukan ini,. hangat sekali.' "Aku tau Ra,.. Namamu di ubah papa dan mama menjadi Tiara, Tapi aku akan selalu ingat betul nama Raisa. Boleh kan aku panggil kamu Raisa.?" "Ehm,,.. tunggu,. kamu? beneran kamu?" "Iya Ra,. oh ya aku lupa, aku Reza, kembaran kamu." ucapnya. "Reza? kak? jangan pergi dong, tinggalah bersama Tiara,.. kakak sering sekali masuk ke dalam mimpi aku. dan, dalam mimpi kakak selalu bilang 'suatu saat kau akan tau siapa aku.' daan ternyata kakak adalah saudara kembarku.?" tuturku. "Iya dek,. tapi aku ngga bisa tinggal, jika orantua aku sendiri tidak mengijinkan." ujarnya hampir menangis. "Maa paa Aku mohoon,. biarkan Kak Reza tinggal bersama, kumohon maa paa,." Pintaku. "hm.. baiklah nak jika itu mau kamu, kamu tidak marah kan?" ujar ayah. "Pa,..a ku tidak pernah marah pada kalian,.." Akhirnya kita berkumpul kembali bersama. 



Sekian dari saya. 




No comments:

Post a Comment